Sekolah Yang Nyaman, Sekolah Tanpa Kekerasan Dan Pelecehan

Sekolah Yang Nyaman, Sekolah Tanpa Kekerasan Dan Pelecehan

Sekolah merupakan tempat belajar para siswa. Sebagai tempat belajar, sudah sepatutnya sekolah menciptakan lingkungan yang aman bagi para siswa. Meski demikian, bukan berarti sekolah menjadi tempat belajar yang steril dari masalah. Setiap sekolah pasti mempunyai masalah, misalnya masalah kekerasan, baik itu dalam bentuk pelecehan, diskriminasi, senioritas, geng dan lainnya. Sekolah yang nyaman diharapkan mampu menjadi fasilitator untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah.

Namun, sekolah yang nyaman itu seolah-olah hanya seperti impian yang tidak terwujud. Kasus-kasus pelecehan masih kerap terjadi di sekolah, namun hal ini terjadi berulang tanpa ada penyelesaian. Selama ini, kekerasan belum menjadi perhatian khusus bagi sekolah. Pihak sekolah dan para guru telah dipusingkan oleh kurikulum yang berubah-ubah. Para orangtua pun karena merasa sudah membayar, lantas menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada pihak sekolah. Akhirnya masalah kekerasan dalam berbagai bentuknya belum menemukan solusi.

Mari mengawali pemetaan masalah di sekolah
Sebagai salahsatu contoh, seorang siswa merasa tidak nyaman karena mendapatkan pelecehan dari teman lain, karyawan atau bahkan guru. Namun bisa saja siswa tersebut tidak terbuka atau bahkan mungkin bingung harus mengadu kepada siapa. Dampak yang terjadi, siswa tersebut menjadi malas sekolah, murung atau bersikap tertutup. Sebagai orangtua, jika kita menemukan anak malas sekolah, lebih bijaksana jika tidak langsung menghujatnya sebagai pemalas. Bisa jadi siswa tersebut mengalami pelecehan dan merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekolah.
Selain itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, sebab dapat menjadi pemicu terjadinya kekerasan dalam berbagai bentuk.

Teknologi 
Teknologi  semakin canggih, segala  informasi bisa didapat tanpa keluar rumah. Bermodalkan modem,berlangganan internet,handphone yang dilengkapi dengan fitur lengkap bisa browsing apa saja yang kita inginkan. Situs porno, berbagai kontes perkelahian yang ekstrempun begitu mudah diakses. kemajuan teknologi memang kita butuhkan namun  tanpa dibarengi dengan mental yang siap justru menimbukan dampak negatif bagi generasi kita.
Keluarga dan teman
Pola asuh, minimnya waktu bersama anak sebagai akibat pemenuhan kebutuhan hidup yang kian berat, juga menjadi factor munculnya kekerasan. Anak tidak lagi menemukan kebahagiaan, perhatian dan kasih saying yang cukup dari keluarga. Teman menjadi tempat mereka menjalani hari-hari minim kasih sayang. Jika ternyata teman bergaulnya memiliki kedekatan dengan kekerasan, sudah pasti anak kita mudah terpapar kekerasan. Baik sebagai pelaku ataupun korban. 

Perkembangan anak.
Seiring tumbuh kembangnya, di usia remaja anak memiliki keingintahuan yang besar akan berbagai perubahan pada tubuh dan hasratnya. Orangtua perlu membuka diri untuk tempat belajar bagi anak terutama berkaitan perubahan organ reproduksinya. Kehamilan tidak diinginkan, terkadang dipicu pengetahuan mengenai seksualitas yang kurang.
Pengetahuan seks juga dapat menghindarkan anak dari tindak kekerasan seperti pelecehan seksual. Sebab anak akan memahami apa saja yang yang boleh dilakukan , tidak boleh dilakuan, yang harus dilindungi, dijaga dan lain sebagainya

Melihat beberapa fakta di atas, lalu apa yang dapat dilakukan sekolah untuk meminimalisir terjadinya kekerasan ?
Sekolah perlu membuat forum khusus komunikasi para guru, kepala sekolah dan orang tua murid. Dari forum ini, diharapkan setiap siswa yang mengalami tindak pelecehan dapat melaporkan secara nyaman saat ia menyaksikan atau menjadi korban tindak asusila tersebut tanpa rasa was-was terhadap segala bentuk ancaman. Dalam menyelesaikan kasus pelecehan dan kekerasan pun forum diharapkan mampu bersikap bijak, baik bagi si pelaku maupun si korban. Harapannya, tindak kekerasan termasuk pelecehan bisa dicegah. Setidaknya dengan adanya forum khusus ini, si pelaku akan berpikir panjang untuk melakukan tindak kekerasan dan asusila. Mari kita ciptakan sekolah tanpa kekerasan.

Oleh : Hambar Riyadi dan Siphen Purwanto

Hits (10)Kamis, 1 Januari 1970 07:00:00
senioritas

sniority

Senioritas merupakan keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman maupun usia.  Budaya Senioritas tak pernah luput dalam kehidupan di lingkungan sekolah. Panji-panji kuno pun kerap sekali diserukan supaya budaya senioritas itu tetap langgeng. “Junior harus mengikuti segala perintah senior,”, “senior itu tak pernah salah”. hal itu menjadikan bentuk senioritas terkesan kejam dan sulit diputus.

Sebenarnya budaya senioritas itu boleh-boleh saja dilakukan, apabila tujuannya untuk berbagi ilmu dan informasi. Sebagai manusia yang sedang tumbuh, kita tak bisa memungkiri bahwa kita harus belajar dari manusia yang sudah berpengalaman atau manusia yang lahir lebih dahuu daripada kita. oleh karena itu, senioritas berfungsi untuk membagi pengalaman dan informasi agar generasi berikutnya dapat menjalani kehidupan lebih baik. setelah memberi informasi dan ilmu, seorang senior diharapkan memberi kebebasan kepada sang junior untuk menjalankan sesuai yang dipahaminya. tentu dengan kondisi seperti diatas, saya kira budaya senioritas bukan menjadi persoalan.

Namun senioritas menjadi persoalan apabila si senior tak paham apa yang diajarkan kepada sang junior. sebagai contoh seorang senior mewariskan geng sekolah dan mewariskan permusuhan antar sekolah, seorang senior mengajarkan cara membolos dan memalak. contoh-contoh tersebut menandakan bahwa sang senior tak paham akan hal yang diajarkan. apalagi bila senioritas dilakukan dengan cara melakukan pemaksaan, hal ini merupakan pelanggaran. Segala sesuatu bila dilakukan dengan cara memaksa, maka yang terjadi adalah pelanggaran hak asasi.

terlebih budaya senioritas dilakukan atas dasar dendam, bukan berbagi ilmu, hal ini sangat fatal sekali. sebagai contoh, apabila kita pernah mengalami senioritas di sekolah dengan cara dihukum fisik lari, push-up dan sebagainya. atau saat menjadi junior kita pernah disakiti dan dipukul senior kita karena membantah. saat itu tentu yang kita rasakan adalah sakit hati. namun ketika kita menjadi senior malah merasa dendam dan ingin melampiaskan kepada adik kelas kita. maka tindakan balas dendam tersebut merupakan kesalahan besar. sebagai manusia kita tidak pernah belajar dan tidak mau mengubah keadaan. apabila kita pernah sakit hati saat menjadi junior, seharusnya kita menjadikannya bahan evaluasi dan berani mengubahnya, sehingga saat kita  menjadi senioritas kita tidak menyakiti dan melanggar hak asasi junor kita.

Kesimpulannya,  tradisi senioritas yang memaksa dan menyakiti  harus diubah.  Senioritas boleh dilakukan atas dasar berbagi ilmu dan dengan cara yang baik. Senioritas tidak boleh dilakukan apabila didasari perasaan dendam untuk menghukum dan membullying si junior.  semoga kita bisa belajar dan berani menjadi generasi yang memutus budaya kekerasan dalam senioritas. hal ini butuh keberanian dan pengorbanan. mari kita bersama-sama memulainya.

salam persahabatan cinta dan damai.

Oleh : Hambar Riyadi

sumber gambar : https://watatita.wordpress.com/2010/10/07/

Hits (10)Kamis, 1 Januari 1970 07:00:00
Festival Teater Anak 2012 “Perayaan Kampung Anak Indonesia”.

Pada tahun ini, Anak Wayang Indonesia kembali menyelenggarakan Festival Teater Anak untuk yang ketiga kalinya. Festival kali ini mengusung tema “Perayaan Kampung Anak Indonesia”.

Festival ini bertujuan untuk memberikan ruang untuk berekspresi bagi anak, merayakan kampung sebagai tempat belajar dan menjadi ajang untuk menyuarakan aspirasi serta ekspresi kecintaan anak terhadap kampung mereka.

Selain itu, Festival ini juga dimaksudkan untuk menjaring dukungan dari masyarakat luas, untuk mewujudkan kampung yang ramah bagi anak, dan berorientasi pada pemenuhan hak mereka (anak).

Senin, 9 Juli 2012
Tari Anak Ledok Tukangan
Teater Anak Mergangsan
Penyerahan Hadiah Juara Liga Bola Anak Kampung (LIMPUNG)
Teater Anak Ledok Tukangan
Launching Film Perdamaian "Pelanggan Special" by Komunitas Lektumijan


Selasa, 10 Juli 2012
Jimbe Remaja Juminahan
Pantomime Anak Jagalan
Tari Yapong Anak Jagalan
Ketoprak Remaja "MAger Sari" by Komunitas Mandegani

tempat : Auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP) / IFI Jl. Sagan No.3 Yogyakarta

waktu :

9 Juli pukul 19:00 dan 10 Juli pukul 22:00



Mari berlibur dan merayakan kampung kita...
Hidup anak Indonesia...hoorrrreeeeeeeee

Hits (7)Kamis, 1 Januari 1970 07:00:00
120 Pekerja Usia Anak Madiun Kembali Sekolah

Madiun - Sebanyak 120 pekerja usia anak di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, kembali bersekolah setelah mengikuti pendampingan pekerja anak program Pengurangan Pekerja Anak dalam rangka mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH) di wilayah setempat.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Madiun, Beny Adi Wijaya, Jumat, mengatakan, pendampingan tersebut telah dilakukan oleh Dinsosnakertrans selama 25 hari kerja dari 7 Mei - 7 Juni 2012.

"Sebanyak 120 anak tersebut merupakan pekerja anak dengan usia sekolah dari beberapa desa yang tersebar di 15 kecamatan di Kabupaten Madiun," ujar Beny.

Menurut dia, pendampingan program PPA-PKH merupakan program nasional yang bertujuan untuk mengurangi jumlah pekerja anak dari rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang putus sekolah dan bekerja. Mereka akan ditarik dari tempat kerja dan dikembalikan ke dunia pendidikan.

Dari 120 pekerja anak yang masuk pada kegiatan pendampingan tersebut, ada 105 orang anak ingin masuk ke sekolah formal, satu orang anak masuk pendidikan nonformal atau kejar paket, dan 14 orang anak ingin mengikuti pelatihan ketrampilan.

"Dengan program yang sudah kami laksanakan, semoga anak-anak tersebut tidak kembali ke dunianya sebagai pekerja anak. Tapi kembali ke sekolah seperti anak-anak lainnya. Karena itu, kami akan terus melakukan pemantauan," kata Beny.

Pihaknya sadar, jumlah riil anak yang bekerja di wilayahnya lebih banyak. Namun, sejauh ini yang berhasil dijaring oleh tim adalah sejumlah demikian.

Ia menjelaskan, hal yang melatarbelakangi masalah pekerja anak sangatlah kompleks. Sebab hal itu terkait dengan masalah kemiskinan. Dengan alasan mendapat penghasilan untuk meringankan beban orangtua, anak-anak yang seharusnya belajar pada jam sekolah, justru mencari uang.

Adapun, pekerjaan yang mereka lakukan antara lain, buruh tambang, kuli bangunan, loper koran, tukang semir sepatu, buruh membuat genteng dan batu bata serta lainnya.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Madiun, Mardi'i, menambahkan, kebanyakan dari para pekerja anak tersebut putus sekolah serta masih dalam usia wajib belajar sembilan tahun.

"Untuk mengembalikan mereka ke sekolah, tim yang ditunjuk melakukan pendekatan ke orangtua dan memberikan bekal pendidikan serta ketrampilan kepada anak," kata Mardi'i.

Pemkab Madiun melalui program ini, menargetkan akan menarik sebanyak 3.000 pekerja anak di tahun 2012. Diharapkan, dari jumlah 120 anak tersebut akan terus bertambah, sehingga angka anak yang kembali bersekolah dan tidak bekerja di Kabupaten Madiun semakin banyak. (*)

Hits (3)Kamis, 1 Januari 1970 07:00:00
Awi adakan Pelatihan Kurikulum “Pembelajaran Bernas, Anak Cerdas”

Lembaga Anak Wayang Indonesia (AWI) adalah sebuah organisasi non-profit yang bergerak di dunia anak. Sejak didirikan pada 1998 di Yogyakarta, AWI aktif mendampingi anak-anak. Dengan bekerjasama dengan PT Sari Husada untuk melakukan aktivitas bersama 11 PAUD percontohan yang ada di wilayah Pemerintah Kota Yogyakarta. Salahsatu aktivitas tersebut adalah peningkatan kapasitas pendidik dan pengelola PAUD. Pada bulan April 2012 lalu, pendidik PAUD dijadwalkan akan memperoleh pelatihan bertema Kurikulum “Pembelajaran Bernas, Anak Cerdas”.
    Pelatihan tersebut dilaksanakan berdasarkan data yang Awi peroleh dari lapangan, sebagian besar pendidik PAUD  percontohan tidak memiliki latar belakang sebagai pendidik. Hal tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan peningkatan kemampuan implementasi kurikulum antara lain: proses penyusunan Rencana Kegiatan Belajar yang memenuhi keseluruhan aspek pembelajaran. Selain itu pendidik PAUD belum menuangkan seluruh aspek pembelajaran dalam rencana kegiatan belajar. Pembelajaran terkadang berjalan sesuai improvisasi pendidik. serta belum terlihat adanya pemisahan target capaian kemajuan anak sesuai usia.
Dari kegiatan ini Anak Wayang Indonesia bertujuan mencoba merumuskan kebutuhan kerangka pelatihan diantaranya Proses implementasi kurikulum, Aspek yang harus termuat dalam Rencana Kegiatan Pembelajaran sesuai usia anak.dan Potensi wawasan lokal seperti seni tradisional, dolanan anak, pangan lokal, dll. Harapannya, para pendidik PAUD dapat memasukkan unsur wawasan lokal ke dalam pembelajaran.

Hits (7)Kamis, 1 Januari 1970 07:00:00
AWI - Sari Husada adakan kegiatan bersama PAUD percontohan

Anak Wayang Indonesia (AWI) sebagai mitra program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan Sari Husada, mengadakan berbagai aktivitas bersama PAUD  Percontohan yang ada di wilayah Pemerintah Kota Yogyakarta. Program yang dilaksanakan tersebut adalah


1. Penanaman tanaman dan sayur dalam pot


    Program bertujuan agar anak memiliki pengetahuan mengenai makanan dan tanaman yang bernutrisi tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan. Harapannya, anak memiliki wawasan lingkungan dan kesehatan.
    Program ini menstimulasi anak untuk mengasah kecerdasan natural mereka. Selain itu, pada proses pelaksanaannya anak diajarkan pengetahuan mengenai tanaman dan juga diajarkan untuk mengantri(kecerdasan interpersonal).
    Proses dari setiap kegiatan, anak diajak untuk mengenal sayur atau buah yang akan ditanam. Anak juga diperlihatkan bentuk dan rasa dari buah. Setelah itu anak dijak untuk mengetahui manfaat tanaman tersebut. Proses terakhir, anak diajak untuk menanam dalam pot-pot kecil.

2. Workshop variasi makanan


    Workshop ini terwujud dalam rangka mendekatkan kembali masyarakat pada tanaman lokal yang bernutrisi. Tujuan dari program ini agar orangtua memahami dan menerapkan pola makan berorientasi pada pembangunan kecerdasan anak dengan makanan bernutrisi tinggi yang berbasis sumber pangan lokal dan tradisional.
    Pangan lokal kian terpinggirkan dan tergantikan oleh produk olahan gandum. Ganyong, garut, suweg, ketela menjadi bahan pangan yang semakin tidak dikenal.Varian pengolahannyapun hanya dikenal oleh sebagian orang yang memang memiliki kepedulian khusus pada sumber pangan lokal.Masyarakat pada umumnya lebih akrab pada hasil olahan gandum. Padahal, Indonesia tidak memiliki ladang gandum.

     Sejauh ini, kebutuhan nasional akan gandum dipenuhi dari mengimpor. Sebenarnya, olahan yang akrab bagi masyarakat seperti roti dan aneka kue juga dapat dihasilkan dari bahan dasar pangan lokal. Misalnya saja dari tepung mocaf(modified cassava) dapat diolah menjadi brownies, roti kukus hal tersebut karena kedekatan karakter antara mocaf dan terigu. Tepung garut dan ganyong cocok diolah menjadi nugget bahkan kastengel.
    Bermula dari berbagai potensi pengolahan pangan lokal, maka tercetuslah keinginan untuk mempopulerkan kembali pangan lokal pada masyarakat. Pada setiap sesi pembelajaran,orangtua diajak berdiskusi berkenaan dengan pangan lokal. Orangtua diajak untuk kembali pada olahan pangan lokal yang ternyata memiliki kandungan gizi optimal dibanding dengan produk impor. Caranya, dikenalkan kembali pada bentuk, manfaat,kandungan gizi dan variasi menunya.

Hits (7)Kamis, 1 Januari 1970 07:00:00

Berita Photo

Festival Teater Anak 2012 “Perayaan Kampung Anak Indonesia”.

Festival Teater Anak 2012 “Perayaan Kampung Anak Indonesia”.

Pada tahun ini, Anak Wayang Indonesia kembali menyelenggarakan Festival Teater Anak untuk yang ketiga kalinya. Festival kali ini mengusung tema “Perayaan Kampung Anak Indonesia”. Festiv...

Hits (1172) 2012-07-05 22:16:22

Awi adakan Pelatihan Kurikulum “Pembelajaran Bernas, Anak Cerdas”

Awi adakan Pelatihan Kurikulum “Pembelajaran Bernas, Anak Cerdas”

Lembaga Anak Wayang Indonesia (AWI) adalah sebuah organisasi non-profit yang bergerak di dunia anak. Sejak didirikan pada 1998 di Yogyakarta, AWI aktif mendampingi anak-anak. Dengan bekerjasama dengan...

Hits (722) 2012-06-03 19:24:55

Awi Video